Kamis, 07 April 2016

[TEENFICT] Summer Breeze (PART 1)

 Tahu filosofi angin?

Saat kita melakukan kebaikan yang diusahakan dengan susah payah, tapi
justru kebaikan itu malah tidak dihargai oleh orang lain.
Karena begitulah konsep angin, ia memang tidak akan pernah bisa terlihat dengan mata.
Tidak akan pernah.



--





Rokok.

Ewh, satu kata lima huruf yang paling Mei benci di dunia ini setelah Matematika. Menghirup asapnya saja sudah tidak tahan, ditambah kami kaum tak berdosalah yang kena dampak dari asap sialan itu. Kalau didepan Mei ada orang yang merokok, ia sengaja saja batuk-batuk biar si perorok sadar kalau ia sudah mendzalimi orang-orang tak berdosa.

Pokoknya Mei benci dengan perokok!

Nah, sekarang yang menjadi masalah, ada bocah tidak tahu diri tengah berdiri di kamar mandi perempuan belakang sekolah yang memang jarang disinggahi guru.

Asap mengepul sampai keluar dari pintu kamar mandi, Mei yang niatnya mau pipis jadi harus menahannya sebentar gara-gara bocah itu. Apa pula seragamnya itu! Pake dikeluarkan segala, sok keren! Memang sih ganteng, tapi gak ada cowok ganteng yang merokok! Itu sih menurut perspektif Mei.

“Heh lo yang disitu!” Aduh sial. Bibir Mei memang sudah sangat gatal ingin memarahi bocah yang sepertinya anak kelas 10 itu.

Cowok itu menoleh. Menarik puntung rokok yang sudah hampir setengah dengan jarinya, menatapi Mei yang tengah berdiri sambil jepit kaki karena masih menahan pipis.

“Lo gak tau apa sama peraturan sekolah yang bilang dilarang merokok?”

Cowok yang entah siapa namanya itu -karena ketika Mei melirik sisi kanan dada lelaki itu, tidak ada name-tag yang terpasang- menjatuhkan puntung rokoknya ke lantai kamar mandi, kemudian menginjaknya. Ia melirik Mei sekilas, kemudian keluar dari kamar mandi.

“Lo siapa?” Suara berat itu keluar dari bibir sang lelaki.

Mei mendongak, karena agak sulit ketika melihat tinggi cowok itu yang sekitar 180cm-an berdiri di hadapannya, terlalu dekat sampai Mei harus mundur selangkah.

“Lo anak kelas 10 ‘kan? Udah sana ke kelas, mabal lo ya? Mumpung gue lagi baik gak akan gue bilangin ke guru,” Mei menjawab dengan agak judes, malas sekali rasanya ngomong dengan orang tidak berpendidikan sepertinya.

“Lo kakak kelas? Tapi tampang bocah SMP,”

“Heh! Apa lo bilang?!”

Tanpa kata, lelaki itu sudah berlalu dari hadapan Mei dengan tampang tanpa ekspresi.

“Kelas 10 apa sih itu anak? Sialan banget ngatain tampang gue kek bocah SMP, cari mati emang.” Kalimat terakhir itu sebenarnya hanya gertakan semata. Toh Mei mana berani melawan cowok jangkung tampang berandal -tapi ganteng- seperti dia.

“Eh iya kelupaan! Mau pipis ‘kan gue!”


---




“Lo ke wc setengah abad ya?” Sekar –teman sebangku Mei sejak kelas 10- menatapinya dengan pandangan keheranan ketika melihat Mei baru memasuki kelas setelah bel istirahat berbunyi.
“Ada kendala,” Jawab Mei sambil pantatnya mendarat sempurna di bangku sebelah Sekar.

“Kendala? Kendala apaan?”

“Ada anak kelas 10 ngerokok di wc cewek belakang sekolah, gue mau tungguin, tapi lama, udah kebelet. Jadi gue marahin itu anak. Tapi songongnya naudzibillah deh!” Mei kembali membayangkan tampang berandalan cowok yang ia temui tadi.

“Wih parah? Lo lapor ke guru?”

“Enggak lah gue males cari rebut,”

“Bilang aja lo takut ‘kan?”

“Ah berisik!”

Azizah Meilani, biasa dipanggil Mei, siswi kelas XI IPA-3 di SMA BINA NEGERI Jakarta. Aslinya sih dia ini orang Bandung, tapi merantau ke Jakarta saat ia masuk SMA karena pekerjaan ayahnya. Punya 1 kakak perempuan dan 1 kakak laki-laki, tapi sekarang ia hanya tinggal berempat karena kakak perempuannya sudah menikah dan ikut dengan suaminya ke Jawa Timur. Selama 17 tahun hidupnya, ia hanya menjalani hari seperti orang normal biasanya. Ia terlalu biasa dan selalu ingin jadi orang yang biasa.

Ia tidak punya keahlian seperti kakak lelakinya yang cerdas dan sudah bulak-balik ke luar negeri berkali-kali. Ia hanya ingin jadi dirinya sendiri.

Tidak mau dikenal sebagai Mei si ‘yang paling pintar di kelas’, karena dia memang tidak pintar. Kemampuan otaknya ya.. Begitulah, standar.

Pokoknya Mei itu tidak mau menonjol dan di kenal banyak orang.

Mei selalu berprinsip “hiduplah dengan tidak menjadi pusat perhatian banyak orang”. Ia berpikir seperti itu, dan tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari.

Mei tidak akan menjadi orang biasa-biasa lagi.



---



“Acil!! Mana pulpen gue?!”

Masih pagi dan sudah terjadi kegaduhan di kelas XI IPA3. Apalagi kalau bukan masalah maling pulpen dan sebagainya.

Entah kelas ini banyak yang klepto atau memang itu sudah menjadi problema pelajar zaman sekarang? Tidak keren kalau tidak maling pulpen? Yang benar saja.

Mei baru datang pagi itu, karena itu sudah jadi kebiasaannya, datang ke sekolah pas ketika bel masuk berbunyi. Sudah ia kalkulasi deh pokoknya, dia tidak mau datang kepagian ke sekolah. Terlalu buang waktu.

“Bukan gue deh sumpah!” Teriak Acil tidak terima dituduh oleh Dwi si pemilik kotak pensil serba ada. Pokoknya yang tidak bawa pensil atau pulpen pinjam pada Dwi pasti deh dikasih. Kotak pensilnya lengkap semua alat tulis, bahkan penggaris sekalipun ia punya 5 buah.


“Bohong lo! Kemarin juga lo ‘kan yang maling spidol sama penggaris gue buat ngegambar anime anime cewek seksi itu!” Dwi yang pada dasarnya cewek imut kurang tinggi perlu jinjit kepayahan ketika lengannya gatal sekali ingin menjambak rambut lepek milik Acil –yang bernama asli Ariel- ((jangan pernah bayangkan wajah Ariel Noah, karena dia gak mirip sama sekali!))

“Astagfirullah apa salah hambamu ini Ya Allah sudah di fitnah dengan tidak semena-mena oleh kecebong cilik ini,” Tampang Acil memelas dan menatap langit-langit kelas dengan kedua lengan ia tadahkan seperti sedang berdo’a.

Bukannya mendapat belas kasihan dari Dwi, ia malah mendapat tendangan telak di tulang keringnya. Mungkin Dwi tersinggung dengan kata-kata kecebong yang Acil sahutkan barusan.

“Ih berisik banget deh. Jodoh loh kalian tiap hari fight melulu,” Cibir Mei sambil lengannya melepaskan ransel dari pundaknya.

“Diem lah! Lo juga sama cebong kayak ni ceb— Aww sialan lo Dwi Putri anjing banget!”

“Lo yang anjing!” Dwi balas berteriak sambil meninggalkan Acil dengan mengibaskan rambutnya sombong.

“Itu bocah ya lama-lama gue pacarin juga…”

“Enak aja lo mau macarin Dwi, langkahin dulu mayat gue,” Enak saja, tidak akan Mei izinkan Dwi yang yang cantik, imut dan lucu itu jatuh ke tangan monster jangkung mesum di hadapannya.

“Nih lo gue langkahin!”

“Anjir lo itu kaki bisa-bisanya naik ngelewatin kepala gue! Ga sopan!”


---



Hari senin dan pelajaran PKN adalah hal yang paling dihindari para siswa. Selain kantuk yang terus menyerang, Ibu Yani si pemilik suara lembut itu seakan menina-bobokan murid-muridnya dengan segala materi yang tengah ia jelaskan. Dan juga, Ibu yang satu ini terlalu baik dan lembut sehingga ada murid yang tidur pun ia diamkan saja. Katanya: “Tidak baik membangunkan orang yang tengah tertidur”

Karena hal tersebut, dengan lancang dan tidak tahu diri, murid-murid dengan seenaknya molor di kelas atau bahkan ada yang main hape di bawah bangku.

Perut Mei meronta-ronta dan telah  mengeluarkan suara tangisan.

“Laper gue.. Istirahat berapa menit lagi?” Keluh Mei sambil memegangi perutnya.

Sekar menengok jam dinding di atas papan tulis, “15 menit,”

“Lama banget….” Mei menidurkan kepalanya di meja, memejamkan matanya sejenak karena tak mampu melawan kantuk.

“Lo jangan ikutan tidur, kasian Bu Yani lagi ngebacot gak didengerin,” Bisik Sekar sambil lengannya iseng menarik rambut medium Mei.

“Gak kuat gue, udah laper, ngantuk, duh parah udah, lagian anak cowok dibelakang juga pada ngobrol…”

Acil dan Cepi yang duduk dibangku paling belakang tengah seru dalam perbincangan tentang film biru yang mereka tonton semalam. Dibangku depan ada Alfa dan Ramadan yang asyik dengan ponsel mereka, seperti chat dengan pacar mereka misalnya, atau mungkin main COC.

Sedangkan cowok lainnya juga sibuk dengan urusan masing-masing, hanya Abizar sepertinya, si cowok yang berpredikat ranking 1 di kelas yang mendengarkan penjelasan Bu Yani.

Tiba-tiba terdengar suara sirine kebakaran di speaker kelas, tapi bukan sirine kebakaran sungguhan kok! Biasanya dipakai kalau ada pengumuman atau panggilan untuk seseorang, seringnya sih dipakai sebagai pemberitahuan sekolah setengah hari! Hal yang paling dinantikan para siswa.

PULANGGG!!” Terdengar teriakan gaduh kepedean yang diserukan murid dikelas Mei dan dikelas lain.

“Ah masa sih setengah hari lagi? Baru juga minggu kemarin kita setengah hari..” Rizqia—atau yang lebih akrab dipanggil Kiki bergumam didepan bangku Mei. Dia ini orang yang paling sering kena harkos kalau berita setengah hari sudah tersebar. Habisnya, dia terlalu percaya dengan berita burung “hari ini ada rapat” atau “setengah hari loh hari ini soalnya kelas 12 ada pemantapan” jadi terlalu sakit baginya untuk mendengar berita bohong lagi.

“Pemberitahuan bagi seluruh warga SMA Bina Negeri yang bapak cintai. Hari ini ada event special bagi kalian semua..”

Terdengar suara Pak Asep –wakasek kesiswaan- di speaker membuat murid-murid bertanya-tanya, tidak biasanya ada pengumuman dengan bahasa seperti itu.

“Bukan pulang ‘kan?” Kiki bermonolog.

“Lo itu trauma sama pulang apa gimana?” Tanya Mei sambil terkekeh melihat tampang Kiki yang memprihatinkan.

“Berisik ah gue capek di harkosin kek hari Jum’at kemaren!”

“Kalian boleh keluar dari kelas sekarang juga dan lihat ke lapangan.. Disana kalian bisa lihat adik kelas kalian yang tidak mematuhi tata tertib sekolah yang kita cintai ini..”

Semua siswa berhamburan penasaran keluar kelasnya masing-masing, tak terkecuali kelas XI IPA3 meninggalkan Bu Yani yang juga termenung keheranan dengan apa yang tengah terjadi.

“Ada apaan nih?” Semua siswa was-wes-wos diluar kelas.

Karena kelas Mei di lantai dua, otomatis anak kelas 11 seakan jadi penonton VIP yang mengelilingi lapangan dari lantai dua.

Mei yang bertubuh kecil menyelip diantara teman-teman kelasnya yang juga penasaran. Ia kemudian disuguhkan dengan pemandangan 5 siswa lelaki yang tengah berjejer dengan posisi istirahat ditempat.

Ada Kak Nugraha! Mantan kecengan Mei saat kelas 10, dan dua anak kelas 11 yang Mei tidak ketahui namanya tapi hafal wajahnya, yang jelas mereka anak IPS. Lalu dua orang lagi Mei tidak hafal wajahnya tapi sepertinya anak kelas 10.

Eh sebentar,

“Aduh itu bocah kelas 10 ‘kan? Ngapain gabung sama gengnya Kak Nugraha coba!” Mei mendengar bisikan cewek-cewek IPA2 kemudian kembali memfokuskan netranya ke lapangan.

“Mereka semua kepergok merokok di kamar mandi putri di belakang sekolah. Padahal kalian tahu kan peraturan sekolah kita bagaimana? Mungkin siswa-siswa didepan kalian ini tidak bisa baca atau bagaimana..”

“Gila Kak Nugraha! Udah kelas 12 masih aja kepikiran main-main kek gitu ckckck,”

“Orang ganteng mah bebas,” Komentar Mei pada Alfa yang memasang tampang sok.

“Ini cewek satu berisik mulu ya,”

“Apaansi baru juga sekarang kita ngobrol lagi,”

“Jangan pernah ada kata ‘kita’ antara lo sama gue ya!”

Semua sudah terlalu maklum dengan pertengkaran Alfa dan Mei yang selalu meributkan hal tidak penting.

“Jadi sekarang bapak menyuruh mereka untuk merokok dihadapan kalian semua..”

“Serius??!”

“Gila-gila Pak Asep parah..”

“Keren nih, gue video ah,”

Mei mengangguk-ngangguk, itu pantas bagi mereka semua karena sudah menyalahi aturan. Apalagi untuk anak kelas 10 yang sudah sok-sok seperti itu.

Tapi kenapa Mei seperti pernah melihat bocah jangkung yang paling kanan itu ya?

Kemudian tak berlangsung lama, Pak Luki membawa beberapa batang rokok dan memberikan satu persatu pada setiap murid.
Semua warga SMA Bina Negeri bersorak sorai, membuat 5 orang dilapangan makin dipermalukan. Tapi toh, kelihatannya mereka berlima santai saja dan malah seperti menikmati aksi hukuman yang diberikan sekolah pada mereka.

“Salah nih si bapak, keasikan mereka mah!” Kiki yang entah sejak kapan sudah tiba-tiba ada disamping Mei sambil dagunya ia simpan di bahu Mei.

“Eh Ki, lo liat cowok yang paling kanan itu?” Tanya Mei.

“Iya, kenapa?”

“Lo kenal gak?”

“Itu?” Kiki menyipitkan matanya, “Itu mah si Ryan! Bocah komplek gue. Berandalan abis dah dia mah,”

“Gue berasa kenal…”

Dan otak Mei yang memang paling payah dalam menampung memori tiba-tiba saja diingatkan dengan sekelebat insiden pertemuannya dengan anak kelas 10 yang merokok di kamar mandi pekan lalu.

“Lah! Iya gue inget!” Teriak Mei membuat Kiki memindahkan dagunya dari bahu Mei.

“Lo kenal?”

Mei mengangguk, “Bukan kenal sih, lebih tepatnya gue mergokin dia waktu dia ngerokok di wc cewek,”

“Serius? Lo gak dia apa-apain ‘kan?” Lengan Kiki menyentuh bahu Mei seakan memastikan apakah ada bagian tubuhnya yang lecet.

Mei menyernyitkan alisnya, “Maksud lo?”

Kiki geleng-geleng sambil mengelus dadanya, “Gila lo! Dia itu anti banget sama cewek. Bisa dibilang benci, anak broken home pokoknya! Jarang pulang ke rumah. Terakhir gue liat dia keliaran deket komplek rumah gue itu sekitar 2 minggu lalu. Waktu itu juga pernah ada anak komplek gue yang ngeceng dia, eh dia ceburin ke kali –yaah emang bego sih cewek itu nembak si Ryan deket empang di komplek gue.”

“Pantesan aja di songong. Sinis sih ngomongnya juga,”

“Hati-hati deh pokoknya sama dia.. Lo gak tenang kalau sampe berurusan sama si Ryan.. Masih untung dia gak main fisik sama lo, kalau udah main fisik, gue yakin lo enggak bakalan mau sekolah seminggu,”

“Ah lebay lo ah..”

“Serius gue mah, suerrr!”

Mei kembali mengalihkan pandangannya ke lapangan. Dilihatnya lelaki yang kini Mei ketahui bernama Ryan itu, sudah menyalakan rokoknya dengan wajah kalem. Asap mengepul dilapangan karena kelimanya merokok secara bersamaan.

“Gak terpuji banget kelakuannya, ampun deh,”

Tiba-tiba netra Mei yang sedaritadi menatapi bocah itu dari lantai atas bersirobok dengan milik Ryan. Entah kenapa juga, bocah itu tiba-tiba melirik kearah kelas Mei tanpa alasan.

“Gila itu adik kelas seksi banget!”

“Ganteng!!”

Lima detik mereka saling bertatapan, sebelum akhirnya Ryan mengalihkan pandangannya dan lanjut mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya.

“Tadi dia liat kesini?” Bisik Mei sambil memegangi lehernya yang merinding.


Seketika, seperti ada angin yang berhembus entah darimana, menerbangkan jutaan helai surai hitam milik Mei. Membuatnya merasakan hawa dingin yang agak menusuk di bulan Agustus yang harusnya menjadi puncak musim kemarau.

Kenapa Mei tiba-tiba merasa akan terjadi sesuatu yang besar padanya ya,....



.

.
.
.

.


Bersambung....




***


HAI KALIAN!!!!!!!!!! JUMPA LAGI SAMA ZAHRA DISINI!!!

Yeay! Lama gak ngepost cerita dan hadir dengan tiba-tiba hehehe
Alhamdullilah aku udah beres UN meskipun gak tau juga hasilnya gimana... Jeblog bisa jadi, ah tau ah pusing w, UN tahun ini penuh dengan ketai-taian.

btw gimana? gimana?

Ceritanya belum masuk kedalam tema utama dari judulnya wkwkwk

Aku lagi pengen bikin cerita tapi bukan fanfic, apalagi sekarang lagi senggang, pengennya nulis aja gituuu, btw pas hari ini baru ON blogger kaget banget liat viewersnya udah >27K WOWWWW kalian amazing banget aku sampe terharu, gilaaa ternyata masih ada yang berkunjung ke blog aku meskipun aku udah jarang ngepost. Sumpah deh terharu gak nahan!

Makanya aku putuskan buat ngepost cerita ini, siapa tau viewersnya banyak, meskipun gakkan ada yang komen, yaaa aku maklumi karena cuman yang punya akun gugel doang yang bisa komen di blogger, agak susah emang, pengennya aplot wattpad tapi entah kenapa error mulu, gapaham w masih gaptek wattpad wkwkwk

Yaaah semoga aja kalo viewers cerita ini banyak, aku bakal lanjutin next part, sehabis besok aku pulang dari pangandaran wihiiii belum lulus ugha udah pelepasan sekolah w emang agak aneh wkwkwk

Okedeh cukup syekian yaaaa~ semoga suka sama cerita ini dan btw! INI TAHUN KETIGA SEMENJAK AKU NULIS DI BLOG INI OMG time goes fast banget gak nyangka!

Kalian terbaik sip lahhh!!!

BYE~~~!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

your comment my motivation :)